Kamis, 02 Oktober 2014

MDGs (Millenium Development Goals) 2025



Delapan Tujuan MDGs (Millenium Development Goals)

A. Sejarah pembentukan MDGs
Kehidupan yang layak dan kesejahteraan penduduk merupakan tujuan dari pembangunan di setiap negara, agar keadaan bumi yang aman, makmur, dan sejahtera dapat tercapai. Untuk mewujudkan semua itu, pada Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) Milenium Perserikatan Bangsa -Bangsa (PBB) bulan September 2000, sebanyak 189 negara anggota PBB yang diwakili oleh kepala negara dan kepala pemerintahan sepakat untuk melahirkan sebuah deklarasi Millenium Development Goals (MDGs) atau dalam bahasa Indonesia dikenal sebagai Tujuan Pembagunan Millenium.

Deklarasi itu berdasarkan pendekatan yang inklusif, dan berpijak pada perhatian bagi pemenuhan hak-hak dasar manusia. Di dalam KTT Milenium tersebut juga dihasilkan konsensus yang merangkai upaya-upaya untuk mencapai tujuan MDGs dengan perhatian utama pada hak asasi manusia, tata pemerintahan yang baik, demokratisasi, pencegahan konflik, dan pembangunan perdamaian.

Pada mulanya, MDGs merupakan sebuah review atas kebijakan pembangunan yang dikeluarkan oleh OECD-DAC pada pertengahan tahun 1990 dan kemudian dimasukkan kedalam Tujuan Pembangunan Internasional (Internasional Development Goals) tahun 2000 dan direvisi menjadi Tujuan Pembangunan Milenium (Millenium Development Goals) pada KTT Milenium. Setiap tujuan (goal) dari MDGs memiliki satu atau beberapa target dengan beberapa indikatornya. MDGs memiliki 8 tujuan, 18 target, dan 48 indikator yang telah disusun oleh konsensus para ahli dari sekertariat PBB, Dana Moneter Internasional (IMF), Organisasi untuk Pembangunan dan Kerjasama Ekonomi (OECD) dan Bank Dunia.

Masing-masing indicator digunakan untuk memonitor perkembangan pencapaian setiap tujuan dan target. Selain Tujuan Pembangunan Milenium (MDGs), ada beberapa tujuan pembangunan yang lain ditetapkan pada dekade 1960-an hingga 1980-an. Sebagian terlahir dari konferensi global yang diselenggarakan PBB pada 1990-an, termasuk KTT Dunia untuk Anak, Konferensi Dunia tentang Pendidikan untuk Semua 1990 di Jomtien, Konferensi PBB tentang Lingkungan dan Pembangunan 1992 di Rio de Janeiro, serta KTT Dunia untuk Pembangunan Sosial 1995 di Copenhagen. MDGs tidak bertentangan dengan komitmen global yang sebelumnya karena sebagian dari MDGs itu telah dicanangkan dalam Tujuan Pembangunan Internasional (IDG), oleh negara-negara maju yang tergabung dalam OECD pada 1996 hingga selanjutnya diadopsi oleh PBB, Bank Dunia dan IMF.

Beberapa hal penting yang perlu mendapat perhatian berkaitan dengan MDGs adalah sebagai berikut: Pertama, MDGs bukan tujuan PBB, sekalipun PBB merupakan lembaga yang aktif terlibat dalam promosi global untuk merealisasikannya. MDGs adalah tujuan dan tanggungjawab dari semua negara yang berpartisipasi dalam KTT Milenium, baik pada rakyatnya maupun secara bersama antar pemerintahan. Kedua, tujuh dari delapan tujuan telah dikuantitatifkan sebagai target dengan waktu pencapaian yang jelas, hingga memungkinkan pengukuran dan pelaporan kemajuan secara objektif dengan indikator yang sebagian besar secara internasional dapat diperbandingkan. Ketiga, tujuan-tujuan dalam MDGs saling terkait satu dengan yang lain. Keempat, dengan dukungan PBB, terjadi upaya global untuk memantau kemajuan, meningkatkan perhatian, mendorong tindakan dan penelitian yang akan menjadi landasan intelektual bagi reformasi kebijakan, pembangunan kapasitas dan memobilisasi sumber daya yang dibutuhkan untuk mencapai semua target. Kelima, 18 belas target dan lebih dari 40 indikator terkait ditetapkan untuk dapat dicapai dalam jangka waktu 25 tahun antara 1990 dan 2015. Sekalipun MDGs merupakan sebuah komitmen global tetapi diupayakan untuk lebih mengakomodasikan nilai-nilai lokal sesuai dengan karakteristik masing-masing negara sehingga lebih mudah untuk diaplikasikan. Dalam sidang umum PBB yang ke-60 pada tanggal 14-16 September 2005, dilakukan juga evaluasi pelaksanaan lima tahun MDGs. Dalam evaluasi tersebut dikatakan bahwa 50 negara gagal mencapai paling sedikit satu target MDGs. Sedangkan 65 negara lainnya beresiko untuk sama sekali gagal mencapai paling tidak satu MDGs hingga 2040. Sehingga hingga kini, MDGs masih menjadi suatu perdebatan tentang tujuan-tujuan yang ingin dicapai dalam MDGs, sumber daya yang dibutuhkan dan bagaimana cara pencapaian MDGs.

B. Keikutsertaan Indonesia dalam MDGs
Sejak Indonesia tergabung dalam keanggotaan PBB, secara otomatis Indonesia banyak telibat dalam menyukseskan kegiatan-kegiatan yang diselenggarakan oleh PBB. Keikutsertaan Indonesia dalam Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) Milenium Perserikatan Bangsa-bangsa (PBB) bulan September 2000 dan menandatangani Millenium Development Goals (MDGs), menjadikan Indonesia harus berusaha untuk turut menyukseskan MDGs sebagai komitmen global. Indonesia menyadari bahwa MDGs bukan tujuan PBB, sekalipun PBB merupakan lembaga yang aktif terlibat dalam promosi global untuk merealisasikannya. MDGs adalah tujuan dan tanggung jawab dari semua negara yang berpartisipasi dalam KTT Milenium, baik pada rakyatnya maupun secara bersama antar pemerintahan. Penggunaan indikator MDGs akan merangsang lembaga-lembaga pemerintah dan swasta di tingkat daerah untuk menyatukan upaya pembangunan. Sehingga bisa dihasilkan sinergi positif yang menguntungkan rakyat banyak. Karena persatuan dan kesatuan yang terjadi pada tingkat penduduk, terutama pada tingkat rakyat banyak (grass root level) memerlukan pelayanan manusiawi dan dikemudian hari bisa menikmatinya, merupakan sumbangan pembangunan yang sangat dibutuhkan.

Manfaat
1.      Memberikan informasi yang lengkap mengenai proses penyelesaian suatu masalah kesehatan
2.      Sebagai bahan pertimbangan dalam membuat suatu kebijakan kesehatan di masa yang akan datang

Tujuan (goal) MDG, Target MDGs dan Indikator MDGs
Telah disebutkan sebelumnya bahwa di dalam Tujuan Pembangunan Milenium (MDGs) terdapat 8 tujuan yang harus dicapai dengan 18 target dan 48 indikator yang diharapkan dapat membantu tercapainya tujuan dari MDGs. Adapun 18 target dan 48 indikator tersebut disusun oleh konsensus para ahli dari sekertariat PBB, Dana Moneter Internasional (IMF), Organisasi untuk Pembangunan dan Kerjasama Ekonomi (OECD) dan Bank Dunia. Tujuan (goal) MDGs, target MDGs dan indikator MDGs adalah sebagai berikut:

a.    Tujuan 1: Menanggulangi Kemiskinan dan Kelaparan
·         Target 1: Menurunkan proporsi penduduk yang tingkat pendapatannya di bawah $1 per hari menjadi setengahnya antara 1990–2015.
Indikator:
1.
2.
3.
4.
 
·         Target 2: Menurunkan proporsi penduduk yang menderita kelaparan menjadi setengahnya antara tahun 1990–2015.
Indikator:
5.
6.

b.      Tujuan 2: Mencapai Pendidikan Dasar untuk Semua
·         Target 3: Memastikan pada 2015 semua anak dimanapun, laki-laki maupun perempuan, dapat menyelesaikan seluruh pendidikan dasar.
Indikator:
7.
8.
9.
10.
11.
12.

c.       Tujuan 3: Mendorong Kesetaraan Gender dan Pemberdayaan Perempuan
·         Target 4: Menghilangkan ketimpangan gender di tingkat pendidikan dasar dan lanjutan pada tahun 2005 dan di semua jenjang pendidikan tidak lebih dari tahun 2015.
Indikator:
13.
14.
15.
16.

d.      Tujuan 4: Menurunkan Angka Kematian Anak
·         Target 5: Menurunkan angka kematian balita sebesar dua pertiganya, antara 1990-2015
Indikator:
17. Angka Kematian Balita
18. Angka Kematian Bayi
19. Proporsi Imunisasi Campak pada anak berusia 1 tahun (12-13) bulan

e.       Tujuan 5: Meningkatkan Kesehatan Ibu
·         Target 6: Menurunkan angka kematian ibu sebesar tiga perempatnya antara tahun 1990 dan 2015.
f.       Tujuan 6: Memerangi HIV/AIDS, Malaria, dan Penyakit Menular Lainnya
·         Target 7: Mengendalikan penyebaran HIV/AIDS dan mulai menurunnya jumlah kasus baru pada tahun 2015.

·         Target 8: Mengendalikan penyakit malaria dan mulai menurunnya jumlah kasus malaria dan penyakit lainnya pada tahun 2015.
Indikator:
28.
29.
30.
31.
32.
33.

g.      Tujuan 7: Memastikan Keberlanjutan Lingkungan Hidup
·         Target 9: Memadukan prinsip-prinsip pembangunan berkelanjutan dengan kebijakan dan program nasional dan mengurangi pengrusakan lingkungan.
Indikator:
34.
35.
36.
37.
38.
39.

·         Target 10: Penurunan sebesar separuh, proporsi penduduk tanpa akses terhadap sumber air minum yang aman dan berkelanjutan serta fasilitas sanitasi dasar pada tahun 2015.
Indikator:
40.
41.

·         Target 11: Mencapai perbaikan yang berarti dalam kehidupan penduduk miskin di  pemukiman kumuh pada tahun 2020.
Indikator:
42.
43.
44.



h.      Tujuan 8: Membangun Kemitraan Global untuk Pembangunan
·         Target 12: Membangun sistem keuangan dan perdagangan yang terbuka, berdasarkan hukum, dapat diprediksi, dan tidak diskriminatif.
·         Target 13: Memberikan perhatian khusus pada negara-negara miskin, termasuk.
·         Target 14: Memberikan perhatian khusus pada negara-negara terisolir dan negara pulau yang kecil.
·         Target 15: Berhubungan dengan permasalahan-permasalahan hutang Negara-negara berkembang melalui perhitungan-perhitungan nasional dan internasional dalam rangka membuat hutang tersebut bisa menopang dalam waktu lama.
45.
ODA neto sebagai persentase GNP harga berlaku negara-negara donor OECD/ DAC.
46.
Proporsi ODA yang dialokasikan oleh negara-negara donor OECD/DAC terhadap pelayanan sosial pokok yang meliputi pendidikan dasar, layanan kesehatan promer, gizi, air dan sanitasi.
47.
Proporsi ODA bilateral dari donor OECD/DAC yang bersifat tidak mengikat.
48.
Proporsi ODA yang diterima oleh negara-negara yang hanya berbatasan dengan daratan (laud lock) terhadap GNP mereka.
49.
Proporsi ODA yang diterima oleh negara-negara kepulauan kecil terhadap SDP mereka.
50.
Proporsi nilai impor negara-negara maju (tidak termasuk senjata) dari negara-negara berkembang dan negara-negara belum berkembang (LDCs).
51.
Rata-rata tarif dan kouta yang dikenakan oleh negara-negara maju terhadap (ekspor) produk pertanian, tekstil dan pakaian jadi negara-negara berkembang.
52.
Persentase subsidi hasil-hasil pertanian negara-negara OECD terhadap GDP mereka.
53.
Proporsi ODA yang disediakan untuk membantu kapasitas perdagangan.
54.
Proporsi utang bilateral resmi negara-negara miskin penghutang berat (HIPC) yang dibatalkan.
55.
Proporsi ODA yang digunakan untuk melunasi hutang.
56.
Rasio hutang terhadap nilai ekspor barang dan jasa.

·         Target 16: Dalam kerja samanya dengan negara-negara berkembang, pengembangan dan penerapan strategi untuk para remaja pada pekerjaan yang produktif dan layak.
Indikator:
57.
Angka pengangguran penduduk usia remaja 15-24 tahun menurut jenis kelamin.

·         Target 17: Bekerjasama dengan perusahaan farmasi dalam menyediakan akses untuk pengadaan obat esensial di negara berkembang.
Indikator:
58.
Proporsi penduduk yang dapat mengakses obat-obatan esensial (penting) dengan harga terjangkau dan berkelanjutan.

·         Target 18: Bekerjasama dengan sektor swasta untuk menyediakan teknologi baru yang menguntungkan terutama dalam hal informasi dan komunikasi.
Indikator:
59.
Banyaknya pelanggan saluran telepon per 1 000 penduduk.
60.
Banyaknya pengguna personal computer (PC) per 1 000 penduduk.
61.
Banyaknya pengguna internet per 1 000 penduduk.

Setiap tujuan menetapkan satu atau lebih target serta masing-asing sejumlah indikator yang akan diukur tingkat pencapaiannya atau kemajuannya pada tenggat waktu hingga tahun 2015. Secara global ditetapkan 18 target dan 48 indikator. Meskipun secara glonal ditetapkan 48 indikator namun implementasinya tergantung pada setiap negara disesuaikan dengan kebutuhan pembangunan dan ketersediaan data yang digunakan untuk mengatur tingkat kemajuannya. Indikator global tersebut bersifat fleksibel bagi setiap negara.
Deklarasi MDGs merupakan hasil perjuangan dan kesepakatan bersama antara negara-negara berkembang dan maju. Negera-negara berkembang berkewajiban untuk melaksanakannya, termasuk salah satunya Indonesia dimana kegiatan MDGs di Indonesia mencakup pelaksanaan kegiatan monitoring MDGs. Sedangkan negara-negara maju berkewajiban mendukung dan memberikan bantuan terhadap upaya keberhasilan setiap tujuan dan target MDGs.


Menurut pendapat saya ,
Saya setuju dengan adanya MDGs , karena Indonesia termasuk negara berkembang yang menjadi anggota pbb maka pemerintah sudah sebaiknya ikut serta dalam keputusan PBB tersebut . Untuk pencapaian MDGs sendiri sebenernya indonesia sudah mempunyai RPJPN (Rencana Pembangunan Jangka Panjang Nasional) mulai dari tahun 2005-2025 dalam rancangan RPJPN itu dibawahnya juga terdapat RPJMN (Rencana Pembangunan Jangka Menengah) . Dari rencana-rencana ini  jugasebenenarnya mulai tahun 2005 sudah ada pencapaian , tapi menurut saya  pemerintah harus lebih bebenah diri saja ,pembangunan di Indonesia  harus merata , jangan terpusat di kota kota besar contohnya ibu kota , sebaiknya diprioritasin untuk daerah-daerah khususnya di perbatasan .

MDGs bukan rencana PBB lagi memang setiap negara harus mempunyai visi misi yang menjadi visi misi MDGs juga , pemerintah harus bebenah diri lagi mulai dari yang pertama itu pengelolaan reformasi birokrasi nya terlebih dahulu dilanjutkan ke tekhnis nya seperti menekan angka kematian ibu , menekan penyakit HIV,  memperbanyak lapangan kerja, kemiskinan , pangan , infrastruktur nya ,dll.  Jadi bagaimana pengelolaannya terlebih dahulu jika pengelolaannya benar dilanjutkan ke tekhniksnya .

Pencapaian program mdgs ini hrus dilihat apa dampak negatifnya , sebenrnya pembangunan bangsa atau tujuan dari MDGs ini diperoleh dari keluarga bahagia dari yang middle dilanjutkan keatas, akan tetapi pejabat juga pun harus peduli akan hal ini , salah satu contohnya untuk mengurangi kemiskinan, ya ciptakan lapangan kerja terbuka , akses ekonomi dengan menggunakan ekonomi masyarakat dari daerah-daerah jangan terus dikembangkan di daerah- daerah yang bisa dikatakan daerah yang sudah maju ,seperti untuk membuka lapangan kerja juga tidak hrus mengandalkan investor asing,  harus dimulai dari daerah sendiri , jangan selalu mengandalkan pinjaman uang dari luar negeri ,sebab itu akan menambah beban negara sendiri.

referensi : http://ryoshiromibu.blogspot.com/2013/01/delapan-tujuan-mdgs-millenium_4557.html

ARTI PENTINGNYA ORGANISASI dan METODE




ARTI PENTINGNYA ORGANISASI dan METODE



PENGERTIAN ORGANISASI
  • Organisasi adalah system kegiatan terkoordinasi dari kelompok orang yang bekerja sama mengarah pada tujuan bersama, dibawah kewenangan dan kepemimpinan. 
  • Organisasi itu dapat disebutkan sebagai sekumpulan orang yang tunduk pada konvensi bersama untuk mengadakan kerjasama dan interaksi guna mencapai tujuan bersama, dalam rangka keterbasan sumberdaya manusia dan sumber materil.
  •  Menurut Dr. S.P. Siagian, organisasi adalah suatu persekutuan antara dua orang atau lebih  yang bekerja bersama secara formal terikat dalam rangka pencapaian tujuan yang telah ditentukan, dan dalam persekutuan tersebut selalu terdapat hubungan antara pimpinan dan bawahan.

MANAJEMEN dan ORGANISASI 
 
Manajemen dapat didefinisikan sebagai proses merencanakan, mengorganisir, mengarahkan, dan mengendalikan kegiatan untuk mencapai tujuan organisasi dengan menggunakan sumberdaya organisasi. Kegiatan merencakan, mengorganisir, mengarahkan, dan mengendalikan, disebut proses manajemen.
Drs. Soekarno K . dalam bukunya Dasar-Dasar  Manajemen berpendapat bahwa organisasi dapat dibedakan dalam dua macam yaitu :
a.      Organisasi sebagai alat manajemen
b.      Organisasi sebagai fungsi manajemen
Sebagai alat manajemen, organisasi adalah wadah ata tempat manajemen melakukan kegiatan. Sedangkan sebagai fungsi manajemen , organisasi member langkah – langkah kepada manajemen untuk melakukan kegiatan dan fungsi manajemen.
Terdapat berbagai macam definisi tentang istilah manajemen :
G.R.Terry dalam bukunya Principle of Management menyatakan beberapa definisi orang lain, sebagai berikut :
  • “The force that runs an enterprise and is responsible for its success or failure (kekuasaan yang mengatur suatu usaha, dan bertanggung jawab atas keberhasilan atau kegagalan daripadanya)”.
  •  “Management is the performance of conceiving and achieving desired results by means of group efforts consisting of utilizing human talents and resources (manajemen adalah penyelenggaraan usaha penyusunan dan pencapaian hasil yang diinginkan dengan menggunakan upaya-upaya kelompok, tediri atas penggunaan bakat-bakat dan sumber daya manusia)”.
  •   “Management is simply getting things done through people (secara sederhana, manajemen adalah melaksanakan perbuatan-perbuatan tertentu dengan menggunakan tenaga orang lain)”
Manajemen dapat disebut pula sebagai pengendalian suatu usaha ; yaitu merupakan :
1. Proses pendelegasian/pelimpahan wewenang kepada beberapa penaggung jawab dengan  tugastugaskepempinan,dan
2.   Proses penggerakan serta bimbingan pengendalian semua sumberdaya manusia dan sumber materiil dalam kegiatanmencapai sasaran organisasi.
Dengan demikian manajemen memungkinkan terjadinya perpaduan semua usaha dan kegiatan mengarah pada tujuan organisasi. Juga menciptakan kerjasama yang baik demi kelancaran dan efektivitas kerja, untuk mempertinggi dayaguna semua sumber dan mempertinggi hasilguna.



MANAJEMEN dan TATA KERJA

Tata kerja atau metode adalah satu cara bagaimana (how) agar sumber-sumber dan waktu yang
tersedia dan amat diperlukan dapat dimanfaatkan dengan tepat sehingga proses kegiatan
manajemen dapat dilaksanakan dengan tepat pula.
Dengan tata kerja yang tepat mengandung arti bahwa proses kegiatan pencapaian tujuan sudah
dilakukan secara ilmiah dan praktis, disamping itu pemakaian tata kerja yang tepat pada pokoknya ditujukan untuk:
a.Menghindari terjadinya pemborosan didalam pendayagunaan sumber-sumber dan waktu yang tersedia.
b.Menghindari kemacetan-kemacetan dan kesimpangsiuran dalam proses pencapaian tujuan.
c.Menjamin adanya pembagian kerja, waktu dan kordinasi yang tepat.
Jadi hubungan antara manajemen dan tata kerja dapat dilukiskan seperti dibawah ini:
Manajemen: menjelaskan perlunya ada proses kegiatan dan pendayagunaan
Sumber-sumber serta waktu sebagai faktor-faktor yang diperlukan untuk pelaksanaan kegiatan demi tercapainya tujuan


MANAJEMEN , ORGANISASI, dan TATA KERJA

Eratnya hubungan atau hubungan timbal balik antara ketiga hal tersebut adalah sebagai berikut
Manajemen yaitu Proses kegiatan pencapaian tujuan melalui kerjasama antar manusia.
Organisasi yaitu alat bagi pencapaian tujuan tersebut dan alat bagi pengelompokan kerjasama.
Tata kerja yaitu Pola cara-cara bagaimana kegiatan dan kerjasama tersebut harus dilaksanakan  sehingga tujuan    tercapai secara efesien. 


Referensi
1.  Kartono, DR. Kartini, Pemimpin dan Kepemimpinan , PT RajaGrafindo Persada, Jakarta, 1998.
2.  M.Hanafi, Mamduh, Manajemen, UPP AMP YKPN, Yogyakarta 1997.
3.  Saydam, DRS Gouzali, Soal-jawab Manajemen dan Kepemimpinan, Djambatan, Jakarta, 1993.
4.  http://dc397.4shared.com/doc/sViZqGdc/preview.html